Bercocok Tanam Cabe


  Selasa, 27 Februari 2018 LAINNYA

Bercocok Tanam Cabe

TEKNIK DAN CARA MENANAM CABAI

Budidaya Cabai merupakan pilihan agribisnis bernilai ekonomis tinggi. Di Indonesia tanaman cabai memiliki daya adaptasi cukup luas dapat dibudidayakan di dataran tinggi ataupun rendah. Teknik budidaya cabai dan pemilihan varietas termasuk pengendalian hama penyakit sangat menentukan keberhasilan.

A. SYARAT TUMBUH TANAMAN CABAI

1. Tanah
Cabai dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase dan aerasi cukup baik dan harus gembur.
2. Air
Tanaman cabai memerlukan air cukup untuk menompang pertumbuhannya. Curah hujan yang baik antara 600 – 1200 mm/thn. Air berfungsi sebagai pelarut dan pengangkut unsur hara, pengisi cairan tanaman cabai, serta membantu proses fotosintesi dan respirasi. Pemberian air tidak boleh berlebihan.
3. Iklim
Curah hujan tinggi berpengaruh terhadap kelebihan air. Intensitas sinar matahari sangat dibutuhkan tanaman cabai berkisar antara 10 – 12 jam per hari. Sedangkan suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman cabai 24 – 28 oC (malam hari)
4. pH Tanah
pH tanah yang sesuai antara 6-7. Pengukurannya menggunakan kertas lakmus, pH meter atau cairan pH tester, dengan mengetahui pH untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam, pH rendah (di bawah 6,5).

B. PENYEDIAAN BENIH
Benih bermutu yang digunakan berasal dari varietas unggul dalam jumlah cukup dan waktu yang tepat. Jenis hibrida memberikan hasil yang lebbih tinggi karena memiliki sifat unggul diantaranya potensi hasil tinggi, umur lebih panjang, masa produktif lebih lama, tahan hama penyakit kualitas baik dan daya simpan lama. Cabe hibrida besar diantaranya Jet set, Arimbi, Buana 07, Somrak, Elegance 081, Horison 2089, Imperial 308 dan Emerald 2078. Cabe hibrida keriting diantaranya Papirus, CTH 01, Kunthi 01, Sigma, Flash 03, Princess 06 dan Helix 036. Cabe rawit hibrida adalah discovery.

C. PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA CABAI

1. Pemilihan Lokasi

a. Lokasi strategis, transportasi mudah,
b. Dekat sumber air,
c. Jauh dari area penanaman cabai lain
d. Lahan tidak ditanami tanaman cabai selama minimal 2 tahun terakhir agar diperoleh hasil optimal

2. Persiapan Sarana dan Prasarana

a. Pengadaan tanah untuk media semai
b. Polibag atau baki persemaian
c. Pengadaan pupuk kandang, pupuk kimia dan kapur pertanian
d. Pengadaan benih dan mulsa PHP (Plastik Hitam Perak)
e. Pengadaan pestisida

Cabe-1

D. PELAKSANAAN BUDIDAYA CABAI

1. Persiapan Pembibitan

a. Membuat rumah sungkup
b. Pembuatan media semai. Komposisi media semai adalah 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang dan 150 gr NPK halus. Media semai dimasukkan ke dalam polibag atau baki persemaian.
c. Pernyemaian benih cabai
Pemeliharaan bibit. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 – 09.00, kemudian sungkup dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan pestisida dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai).
Dosis ½ dari dosis dewasa. Pindah tanam. Bibit cabai berdaun sejati 4 helai siap pindah tanam ke lahan. Benih yang baik tumbuh seragam.

Cabe-2
 
Cabe-3
 

2. Persiapan Lahan

a. Pembajakan dan penggarukan
b. Pembuatan bedengan kasar selebar 110 – 120 cm, tinggi 40-70 cm, lebar parit 50-70 cm
c. Pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP untuk tanah dengan pH di bawa 6,5
d. Pemberian pupuk kandang fermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP
e. Pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah. Rapikan bedengan
f. Pemasangan mulsa PHP
g. Pembuatan lubang tanam. Jarak tanam ideal musim kemarau 60 cm x 60 cm dan musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 70 cm dan cabe rawit 80 x 80 cm. Tujuannya untuk menjaga kelembaban udara di sekitar tanaman cabe
h. Penanaman bibit semai ke lahan. Usahakan penanaman pada pagi hari dan sore hari
i. Pemasangan Ajir

Cabe-4
 
Cabe-6
Cabe-5

E. PEMELIHARAAN TANAMAN CABAI

1. Penyulaman Budidaya Cabai. Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati dengan tanaman baru (sisa bibit), dilakukan sampai umur tanaman 3 minggu.
2. Penyiraman. Penyiraman dilakukan saat kekeringan.
3. Penyiangan. Pembersihan gulma atau tanaman penggaggu secara berkala.
4. Perempelan dan Pengikatan Tanaman Budidaya Cabai. Perempelan tunas samping dilakukan pada tunas yang keluar di ketiak daun. Dilakukan sampai pembentukan cabang utama, ditandai munculnya bunga pertama.
5. Perempelan daun. Perempelan daun dilakukan umur 80 hst (hari setelah tanam) pada daun-daun di bawah cabang utama dan daut tua/terserang penyakit.
6. Pembenahan. Membumbun tanaman yang terbuka akarnya.
7. Pemupukan. Memberikan nutrisi secara berkala sesuai kebutuhan dan kondisi tanaman, baik itu melalui pengecoran maupun penyemprotan.

Cabe-7

8. Sanitasi lahan. Meliputi pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan tanaman cabai terserang hama penyakit disingkirkan dari area penanaman.
9. Pengairan. Pengairan budidaya cabai diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleba seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

F. PEMUPUKAN SUSULAN BUDIDAYA CABAI

Pupuk akar
1. Umur 15 hari dan 30 hari, dosis 3 kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200 lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai 200 ml.
2. Umur 45 hari dan 60 hari, dosis 4 kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200 lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai 200 ml.
3. Umur 75 hari, 90 hst dan 105 hari, dosis 5 kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200 lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai 200 ml.

Pupuk Daun
1. Kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hari dan 21 hari
2. Kandungan Phospat, Kalium dan Mikro tinggi diberikan umur 35 hari dan 75 hari.

Cabe-8

G. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABAI

1. Ulat Grayak
Hama ini menyerang bagian daun cara bergerombol. Daun menjadi berlubang dan meranggas. Pengendalian menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, turex wp.
2. Ulat Buah
Hama ini menyerang buah muda dengan cara membuat lubang dan memakannya. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, ofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo.

Cabe-9