Teknik Penjernihan Air Bersih


  Jumat, 16 Desember 2016 LAINNYA

Teknik Penjernihan Air Bersih

PENTINGNYA AIR BERSIH DALAM KEHIDUPAN

Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu memerlukan air terutama untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Pada saat ini, persentase penduduk di Indonesia yang sudah mendapatkan pelayanan air bersih dari badan atau perusahaan air minum masih sangat kecil yaitu untuk daerah perkotaan sekitar 45%, sedangkan untuk daerah pedesaan baru sekitar 36%.

Dalam rangka penyediaan air minum yang bersih dan sehat bagi masyarakat pedesaan yang mana kualitas air tanahnya buruk serta belum mendapatkan pelayanan air minum dari PAM, perlu memasyarakatkan alat pengolahan air minum sederhana yang murah dan dapat dibuat oleh masyarakat dengan menggunakan bahan yang ada di pasaran setempat.

Salah satu alat pengolah air minum sederhana tersebut adalah alat pengolah. Alat ini dirancang untuk kepperluan rumah tangga sedemikian rupa sehingga cara pembuatan dan cara pengoperasioannya mudah serta biayanya murah. Cara pengolahannya dengan menggunakan bahan kimia yaitu hanya dengan tawas dan kapur air minum yang merupakan paket terdiri dari Tong (tangki).

Tahapan Proses Pengolahan

1. NETRALISASI

Netralisasi adalah mengatur keasaman air agar menjadi netral (pH 7-8). Untuk air yang bersifat asam misalnya air gambut, yang paling murah dan muddah adalah denganpemberian kapur/gamping. Fungsi dari pemberian kapur, disamping untuk menetralkan air baku yang bersifat asam juga untuk membantu efektifitas proses selanjutnya.

2. KOAGULASI DENGAN PEMBERIAN TAWAS
Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia ke dalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan tersuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain yang dapat menggumpal dan cepat mengendap. Cara yang paling mudah dan murah adalah dengan pembubuhan tawas.

3. PENGENDAPAN
Proses pengendapan didiamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua (+ 45 – 60 menit). Endapan yang terkumpul di dasar tangki dapat dibersihkan dengan membuka kran penguras yang terdapat di bawah tangki.

4. PENYARINGAN
Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir.

HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
Jika tinggi tumpukan <100 cm, temperatur tidak mencapai 70oC, bakteri patogen & biji gulma tidak mati. Kadar air dipertahankan 45-55 % (tidak terlalu basah, tidak terlalu kering).

air-bersih-01
  1. TONG/TANGKI PENAMPUNG AIR

Pada dasar drum sebelah dalam di plester dengan semen sehingga berbentuk seperti kerucut untuk memudahkan pengurasan. Selain itu dapat juga menggunakan tangki fiber glass volume 550 liter yang dilengkapi dengan pengeluaran lumpur.

  1. BAK PENYARING

Untuk bak penyaring dapat digunakan drum plastik dengan kapasitas 120 liter, tujuannya supaya bak tidak mudah berkarat. Untuk media penyaring digunakan pasir, kerikil, arang dan ijuk.

Bak Penyaring

 

Bak penyaring terdiri dari bak plastik berbentuk kotak dengan tinggi 40 cm dan luas penampang 25 x 25 cm serta dilengkapi dengan sebuah keran di sebelah bawah. Untuk media penyaring digunakan pasir, kerikil, arang dan ijuk. Susunan media penyaring dari yang paling dasar ke atas adalah sebagai berikut:

Lapisan 1              : kerikil atau koral dengan diameter 1-3 cm, tebal 5 cm.

Lapisan 2              : ijuk dengan ketebalan 5 cm

Lapisan 3              : arang kayu, ketebalan 5-10 cm

Lapisan 4              : kerikil kecil diameter +5 mm, ketebalan +5 cm

Lapisan 5              : pasir silika, diameter +0,5 mm, ketebalan 10-15 cm

Lapisan 6              : kerikil, diameter 3 cm, tebal 3-6 cm

Diantara lapisan 4 dan 5, dan lapisan 5 dan 6, dapat diberi spons atau kasa plastik untuk memudahkan pada waktu melakukan pencucian saringan.

air-bersih-02

CARA PEMBUATAN

1. Masukkan air baku ke dalam tangki penampung sampai hampir penuh (550 liter)
2. Larutkan 60-80 gram bubuk kapur / gamping (4-6 sendok makan) ke dalam ember kecil yang berisi air bau, kemudian masukkan ke dalam tangki dan aduk sampai merata.
3. Masukkan selang aerasi ke dalam tangki sampai ke dasarnya dan lakukan pemompaan sebanyak 50-100 kali, setelah itu angkat kembali selang aerasi
4. Larutkan 60-80 gram bubuk tawas (4-6 sendok makan) ke dalam ember kecil, lalu masukkan ke dalam air baku yang telah di aerasi. Aduk secara cepat dengan arah putaran yang sama selama 1-2 menit. Setelah itu pengaduk diangkat dan biarkan air dalam tangki berputar sampai berhenti dengan sendirinya dan biarkan selama 45-60 menit
5. Buka kran penguras untuk mengeluarkan endapan kotoran yang terjadi, kemudian tutup kembali
6. Buka kran pengeluaran dan alirkan ke bak penyaring. Buka kran saringan dan usahakan air dalam saringan tidak meluap
7. Tampung air olahan (air bersih) dan simpan ditempat yang bersih. Jika digunakan untuk minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu

CATATAN

1. Jika volume bak penampung lebih kecil maka jumlah kapur dan tawas yang dipakai harus disesuaikan
2. Jika menggunakan kaporit untuk membunuh kuman-kuman penyakit, bubuhkan kaporit sekitar 1-2 gram untuk 500 liter air baku. Cara pemakaianya yaitu dimasukkan bersama-sama pada saat memasukkan larutan kapur berdasarkan hasil pengujian alat tersebut yang telah dilakukan di lapangan, maka alat pengolahan air minum sederhana ini sangat cocok digunakan untuk kepentingan keluarga baik di daerah pedesaan maupun perkotaan yang kualitas air tanahnya buruk dan belum mendapat pelayanan air bersih karena alat ini sangat mudah baik pembuatan maupun cara pengolahannya serta biaya produksinya relatif murah. Proses pengolahan alat tersebut diatas sebenarnya merupakan proses yang lengkap, hanya dilakukan dalam bentuk yang sederhana. Jika konstrasi zat besi dan mangan dalam air baku rendah, maka proses aerasi tidak perlu dilakukan.
Selain itu alat tersebut juga dapat berfungsi sebagai alat penampung air hujan (PAH). Untuk daerah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan yang merupakan daerah gambut, dan curah hujan cukup tinggi, alat tersebut dapat berfungsi sebagai alat untuk mengolah air gambut atau untuk menampung air hujan.
Keberhasilan dari alat tersebut sebenarnya bukan dari segi teknologinya melainkan dari segi kemauan untuk menggunakan alat tersebut, karena secara teknis alat tersebut dapat digunakan mengolah air gambut atau air sungai yang keruh. Mengingat hal tersebut diatas maka alat ini perlu disebarluaskan kepada masyarakat.