POLA TANAM


  Jumat, 10 Nopember 2017 ARTIKEL

(Oleh : Yudha Adi Pradana)

Pola tanam adalah pengaturan penggunaan lahan pertanaman dalam kurun waktu tertentu. Tanaman dalam satu areal dapat diatur menurut jenisnya. Ada pola tanam monokultur, yakni menaman tanaman sejenis pada satu areal tanam. Ada pola tanam campuran, yakni beragam tanaman ditanam pada satu areal. Ada pula pola tanam bergilir, yaitu menanam tanaman secara bergilir beberapa jenis tanaman pada waktu berbeda di aeral yang sama.

 Pola tanam dapat digunakan sebagai landasan untuk meningkatkan produktivitas lahan.  Hanya saja dalam pengelolaannya diperlukan pemahaman kaedah teoritis dan keterampilan yang baik tentang semua faktor yang menentukan produktivitas lahan tersebut. Biasanya, pengelolaan lahan sempit untuk mendapatkan hasil/pendapatan yang optimal maka pendekatan pertanian terpadu, ramah lingkungan, dan semua hasil tanaman merupakan produk utama adalah pendekatan yang bijak.

 Pola tanam adalah gambaran rencana tanam berbagai jenis tanaman yang akan dibudidayakan dalam suatu lahan beririgasi dalam satu tahun. Faktor yang mempengaruhi pola tanam :

  • Ketersediaan air dalam satu tahun
  • Prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut
  • Jenis tanah setempat
  • Kondisi umum daerah tersebut, missal genangan
  • Kebiasaan dan kemampuan petani setempat

Penetapan pola tata tanam diperlukan untuk usaha peningkatan produksi pangan. Pola tata tanam adalah macam tanaman yang diusahakan dalam satu satuan luas pada satu musim tanam. Sedang pola tanam adalah susunan tanaman yang diusahakan dalam satu satuan luas pada satu tahun. Pola tata  tanam yang berlaku pada setiap daerah akan berbeda dengan daerah lain, karena karakteristik setiap daerah juga berbeda.

Dua hal pokok yang mendasari diperlukannya pola tata tanam :

 1. Persediaan air irigasi di musim kemarau yang terbatas.

2. Air yang terbatas harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga tiap petak mendapatkan air sesuai dengan jumlah yang diperlukan.

Macam tanaman yang diusahakan dan pengaturan jenis tanaman yang ditanam pada suatu lahan dalam kurun waktu tertentu adalah sangat penting dalam menetukan metode irigasi dan untuk mendapatkan kriteria pemerataan lahan. Penetapan pola tata tanam diperlukan untuk usaha peningkatan produksi pangan. Pola tata tanam adalah macam tanaman yang diusahakan dalam satu satuan luas pada satu musim tanam. Sedang pola tanam adalah susunan tanaman yang diusahakan dalam satu satuan luas pada satu tahun. Pola tata tanam yang berlaku pada setiap daerah akan berbeda dengan daerah lain, karena karakteristik setiap daerah juga berbeda

 

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan pola tanam (usaha tani) adalah :
•   Ketersediaan air yang menyangkup waktu dan lamanya       ketersediaan

• Keadaan tanah yang meliputi sifat fisik,kimia dan bentuk permukaan tanah.
•  Tinggi tempat dari permukaan laut,terutama sehubungan dengan suhu udara, tanah
• Eksistensi hama dan penyakit tanaman yang bersifat kronis dan potensial.
•   Ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanaman yang meliputi jenis dan varietas menurut  agroekosistem dan toleransi terhadap jasad penggangu.
•   Aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil produksi dengan dukungan infrastruktur dan potensi pasar yang memadai.

 

Tujuan pola tata tanam adalah untuk memanfaatkan persediaan air irigasi seefektif mungkin, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Sedangkan tujuan dari penerapan pola tata tanam adalah sebagai berikut:

1. Menghindari ketidakseragaman tanaman.

2. Menetapkan jadwal waktu tanam agar memudahkan   dalam usaha pengelolaan air irigasi.

3. Peningkatan efisiensi irigasi.

4. Persiapan tenaga kerja untuk penyiapan tanah agar tepat waktu.

5. Meningkatkan hasil produksi pertanian

 

Pola penanaman dapat dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan polikultur. 

  1. Monokultur

Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke-20 di dunia serta menjadi penciri pertanian intensif dan pertanian industrial.  Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Kelemahan utamanya adalah keseragamankultivar mempercepat penyebaran organisme pengganggu tanaman (OPT, seperti hama dan penyakit tanaman).

Cara budidaya ini biasanya dipertentangkan dengan pertanaman campuran atau polikultur. Dalam polikultur, berbagai jenis tanaman ditanam pada satu lahan, baik secara temporal (pada waktu berbeda) maupun spasial (pada bagian lahan yang berbeda).

Pertanaman padijagung, atau gandum sejak dulu bersifat monokultur karena memudahkan perawatan. Dalam setahun, misalnya, satu lahan sawah ditanami hanya padi, tanpa variasi apa pun. Akibatnya, hama atau penyakit dapat bersintas dan menyerang tanaman pada periode penanaman berikutnya. Pertanian pada masa kini biasanya menerapkan monokultur spasial tetapi lahan ditanami oleh tanaman lain untuk musim tanam berikutnya untuk memutus siklus hidup OPT sekaligus menjaga kesehatan tanah.

 

  1. B.     Polikultur

Polikultur adalah pertanian menggunakan beberapa tanaman dalam ruang yang sama, meniru keragaman ekosistem alami, dan menghindari berdiri besar tanaman tunggal, atau monokultur. Ini termasuk rotasi tanamanmulti-croppingtumpang saripenanaman pendampinggulma menguntungkan, dan tanam gang.

Polikultur, meskipun sering membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan monokultur:

  • Keragaman tanaman menghindari kerentanan monokultur terhadap penyakit. Sebagai contoh, sebuah penelitian di Cina dilaporkan dalam Nature menunjukkan bahwa menanam beberapa varietas padi di bidang yang sama meningkat hasil panen 89%, terutama karena penurunan (94%) dramatis dalam kejadian penyakit, yang membuat pestisida berlebihan.
  • Berbagai besar tanaman menyediakan habitat bagi lebih banyak spesies, meningkatkan lokal keanekaragaman hayati . Ini adalah salah satu contoh ekologi rekonsiliasi , atau keanekaragaman hayati dalam bentang alam menampung manusia. Ini juga merupakan fungsi dari pengendalian hama secara biologis program.
  • Mengurangi serangan OPT (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin
  • Menambah kesuburan tanah. Dengan menanam kacang-kacangan- kandungan unsur N dalam tanah bertambah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar.  Dengan menanam yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman berakardalam, tanah disekitarnya akan lebih gembur.
  • Siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus, karena sistem ini dibarengi dengan rotasi tanaman dapat memutus siklus OPT,
  • Memperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini menguntungkan karena bila harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga komoditas lainnya.

 

Sistem penanaman polikultur juga memiliki kekurangan terutama jika tidak sesuai dengan pemilihan jenis tanaman, diantaranya adalah :

 Persaingan antara tanaman dalam menghisap unsur hara   dalam tanah.

 Dengan beragam jenis tanam maka hama penyakit juga semakin banyak atau beragam.

 Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat.

 

Dalam pola tanam polikultur terdapat beberapa macam istilah dari sistem ini, yang mana pengertiannya sama yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama tetapi alasan dan tujuannya yang berbeda, yaitu :

1. Tumpang Campuran yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu   lahan     dan dalam waktu yang sama dan umumnya bertujuan mengurangi hama penyakit dari jenis tanaman yang satu atau pendampingnya.

2. Tumpang Sari yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan teratur.

3. Tumpang Gilir yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan yang     sama selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen.

4. Tanaman Pendamping yaitu penanaman dalam satu bedeng ditanam lebih dari  satu tanaman sebagai pendamping jenis tanaman lainnya yang bertujuan untuk saling melengkapi dalam kebutuhan fisik dan unsur hara.

5. Penanaman Lorong yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dengan penanaman tanaman berumur pendek diantara larikan atau lorong tanaman berumur panjang atau tanaman tahunan.

6. Pergiliran atau rotasi Tanaman yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman yang tidak sefamili secara bergilir pada satu lahan yang bertujuan untuk memutuskan siklus hidup hama penyakit tanaman.