KREATIVITAS PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH MENJADI LILIN


  Senin, 30 September 2019 ARTIKEL

Oleh : Riska Yolanda

Minyak jelantah adalah minyak yang dihasilkan dari limbah rumah tangga dari sisa hasil penggorengan yang telah digunakan berulang kali. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang masyarakat yang menggunakan jelantah karena alasan menghemat pengeluaran,  padahal minyak jelantah berbahaya untuk kesehatan. Minyak goreng yang telah dipakai secara berulang-ulang, akan mengalami beberapa reaksi yang dapat menyebabkan menurunkan mutu minyak.

Penurunan mutu minyak yang terdapat pada minyak jelantah, ditandai dengan munculnya bau tidak sedap, warna yang tidak jernih bahkan coklat kehitaman, dan berbusa. Minyak jelantah juga mengandung akrilamida, radikal bebas, dan asam lemak trans (lemak jenuh yang menggemukkan). Terlebih kalau warnanya sudah kecoklatan, dan teksturnya kental. Kalau dipanaskan lagi, semakin tinggi kandungan senyawa-senyawa karsinogenik (pemicu kangker) di dalamnya.

Minyak jelantah biasanya dibuang begitu saja ke saluran pembuangan. Limbah yang terbuang ke pipa pembuangan dapat menyumbat pipa karena pada suhu rendah minyak maupun lemak akan membeku dan mengganggu jalannya air pada saluran pembuangan. Minyak ataupun lemak yang mencemari perairan juga dapat mengganggu ekosistem perairan karena dapat menghalangi masuknya sinar matahari yang sangat dibutuhkan oleh biota perairan.

 Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang tepat agar minyak jelantah bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan, salah satunya dengan pembuatan lilin dari minyak jelantah. Dengan membuat lilin minyak jelantah, kita ikut andil dalam mengurangi limbah karena memanfaatkan barang yang sudah tidak dipakai agar lebih bermanfaat kembali.

            Alat-alat yang diperlukan dalam pembuatan lilin dari minyak jelantah adalah kompor, gelas sebagai wadah lilin, timbangan, gelas ukur, panci, sendok, sumbu lilin. Bahan-bahan yang diperlukan adalah minyak jelantah, parafin, essential oil/pewarna alami/crayon yang sudah tidak dipakai.

Cara membuat:

  • Saring minyak jelantah untuk memastikan tidak ada residu di dalamnya
  • Parafin dihaluskan
  • Timbang parafin sebanyak 400 gr, tuangkan minyak jelantah sebanyak 400 ml ke dalam gelas ukur (perbandingan parafin dengan minyak jelantah, 1:1)
  • Untuk menghilangkan bau minyak jelantah, sangrai minyak jelantah dengan setting medium
  • Masukkan parafin perlahan-lahan sampai parafin larut habis dan menyatu dalam minyak
  • Jika menggunakan pewarna alami (misalkan jahe, kunyit, wortel, daun pandan, dll) yang sudah dihaluskan, atau crayon, maka masukkan pewarna tersebut ke dalam adonan
  • Masukkan aromateraphy yang diinginkan ke dalam gelas yang menjadi wadah (misalnya aroma kayu manis)
  • Tuangkan adonan lilin ke dalam wadah gelas kaca
  • Tancapkan sumbu ke adonan lilin jika sudah setengah beku
  • Diamkan adonan lilin minyak jelantah selama lebih dari 48 jam.
 

Dalam pembuatan lilin dari minyak jelantah kita pun bisa berkreasi, bisa dibuat ber lapis. Warnanya tidak hanya satu, tetapi dua atau tiga warna. Tuangkan sedikit demi sedikit, misalnya bagian bawah, adonan minyak jelantah yang dicampur kopi, bagian atasnya adonan campur jeruk sehingga warnanya cokelat dan orange. Lilin yang biasa kita beli warnanya putih karena menggunakan minyak yang baru. Lilin dari minyak jelantah dibuat beraneka warna karena pewarna yang digunakan bisa mengurangi bau tidak sedap dari minyak jelantah tersebut.

Pembuatan lilin ini dapat meningkatkan nilai guna dan ekonomis minyak jelantah yang semula hanya sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Melalui pembuatan lilin dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah yang tidak terkelola. Diharapkan masyarakat bisa kreatif dalam mengolah minyak jelantah menjadi sesuatu yang praktis dan berdaya guna.

 

Catatan: Ilmu yang penulis dapatkan ketika mengikuti workshop daur ulang minyak jelantah menjadi lilin yang diselenggarakan oleh Kertabumi Klinik Sampah di Lapangan Banteng, Jakarta