DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP MASYARAKAT DAN KEANEKAAN HAYATI


  Rabu, 30 Desember 2020 BERITA

Oleh : Yudha Adipradana

Banyak kebijakan dan program pemerintah yang sebagian besar menitik beratkan pada peningkatan ekonomi berdampak pada masyarakat dan berkurangnya kualitas maupun kuantitas keanekaan hayati.  Kebijakan dan program tersebut paling tidak dapat digolongkan pada beberapa sektor yang terdiri dari

1. Sektor kehutanan dan perkebunan.

Salah satu pembangunan di sector kehutanan yang sudah lama bejalan diantaranya adalah pemberian konsesi berupa HPH dan HTI pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri kehutanan baik untuk keperluan industri kayu, pulp, sawit, karet, damar dan masih banyak komoditi kehutanan lainnya.  Hak penguasaan hutan yang diberikan pada pengusaha berupa konsesi yang memungkinkan pengusaha yang diberi konsesi dapat menguasai seluruh isi hutan baik flora dan fauna bahkan penduduk setempat yang secara tradisional dan turun temurun sudah mendiami tempat tersebut.  Dengan diberikannya kekuasaan tersebut menjadikan keanekaan hayati di dalamnya akan berkurang jumlahnya karena eksploitasi yang seringnya tidak mempertimbangkan kelestarian lingkungan.  Berikut ini beberapa contoh kegiatan yang menyebabkan menurunnya keanekaan hayati di sector kehutanan.

a. Kebijakan pemerintah dalam bidang energi terbarukan khususnya biodiesel.

Jika kebijakan ini benar-benar dilakukan akan membutuhkan lahan yang luas untuk keperluan penanaman sawit.  Kebijakan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang memerintahkan semua jajaran departemen untuk mendukung program tersebut.  Demi memenuhi kebutuhan tersebut maka akan dibuka lahan baru yang sebelumnya berupa hutan dengan segala jenis sumber daya hayatinya, dirubah menjadi mono kultur hanya tanaman sawit saja.  Sebagaimana diketahui pada lahan yang ditanami sawit tidak boleh ditumbuhi tanaman perdu maupun jenis rerumputan disekeliling tanaman tersebut, sehingga jumlah keanekaan hayatinya akan berkurang.

b. Kebijakan pemerintah dalam bidang bioenergi, bahan bakar nabati dari minyak jarak.

Jarak banyak tumbuh pada daerah-daerah yang termasuk pada kategori lahan kritis dengan kondisi musim kemarau yang panjang lebih enam bulan dalam setahun.  Walaupun dinamakan lahan kritis, tetapi sesungguhnya menyimpan berbagai keanekaan hayati yang terkandung di dalamnya, baik berupa tumbuhan semak, hewan dari mulai jenis serangga, jenis kadal dan hewan melata lainnya yang secara ekonomis belum bermanfaat pada saat ini.  Jika lahan kritis tersebut dirubah menjadi lading pohon jarak maka akan merubah keanekaan hayati yang ada menjadi monokultur, yaitu hanya tumbuhan jarak yang ada.

c. Program pemerintah pada tahun 1980, melalui Direktorat Perkebunan Departemen Kehutanan melalui penamggulangan lahan kritis dengan tanaman jambu mete.

Pemerintah dengan dana pinjaman Asian Development Bank (ADB) membuat program yang disebut Tree Crop Smallholder Sector Project (TCSSP) yang diterapkan pada 25 propinsi yang mempunyai lahan kritis untuk ditanami tanaman jambu mete dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan kesempatan lapangan kerja. Penyaluran dana untuk kegiatan penanaman tersebut disalurkan melalui program IFAT oleh Bank Pembangunan Daerah Setempat.  Pemilihan tanaman jambu mete didasarkan atas kajian teknis terhadap sifat tanaman tersebut yang dapat bertahan pada kondisi lahan kritis. Program ini juga diperkuat dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Pertanian NOMOR : 64/Kpts/SR.120/1/2004 Tentang Pelepasan Jambu Mete Varietas MR851 Sebagai Varietas Unggul.  Seperti pada program penanaman jarak, program penanaman jambu mete secara monokultur juga akan berdampak pada penurunan keanekaan hayati yang sebelumnya sudah ada pada lahan kritis.

b. Kegiatan industri Crude Palm Oil (CPO)

Industri CPO menggunakan bahan baku kelapa sawit dengan kontinuitas suplai yang tinggi dalam jumlah banyak.  Kebutuhan bahan baku tersebut berdampak pada luas lahan yang dibutuhkan untuk penanaman sawit lebih luas.  Pembukaan hutan untuk keperluan penanaman kelapa sawit secara monokultur juga akan mengurangi keanekaan jenis kelapa sawit pada tingkat gen.

e. Program Pemerintah Daerah terhadap sengonisasi (studi kasus pada Pemda Nusa Tenggara Barat)

Sejak tahun 2000, Pemda NTB melalui Dinas Kehutanan menggulirkan program sengonisasi.  Program tersebut selain untuk menunjang program penghijauan (penanaman sejuta pohon) juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, untuk itu Pemda NTB bekerja sama dengan perusahaan swasta berecana mendirikan pabrik pengolahan kayu dan pulp.  Dipilihnya tanaman sengon dikarenakan jenis tanaman ini mudah ditanam walaupun dengan perlakuan yang minimum.  Program ini membuat masyarakat yang sebelumnya menanam pohon-pohon jenis lokal dirubah menjadi tanaman sengon yang sampai saat ini pabrik pengolahan kayu dan pulpnya belum terealisasi.  Akibatnya bebrapa tanaman lokal yang sebelumnya ada pada saatnya nanti (dalam jangka panjang) akan mengalami kepunahan ditingkat gen.

f. Kegiatan industri Karet

Penanaman karet melalui HTI yang diberikan pada pengusaha swasta maupun BUMN Perhutani juga berdampak pada pembukaan lahan untuk ditanami karet.  Penanaman komoditi jenis karet juga berdampak pada menurunnya keanekaan hayati hutan aslinya, sehingga beberapa gen tananaman maupun hewan yang ada dalam hutan tersebut mengalami kepunahan.

g. Kebijakan pemerintah melalui pembukaan lahan gambut sejuta hektar.

Pembukaan lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk menunjang program swasembada pangan.  Hal ini dilakukan karena lahan pertanian di Jawa sudah mengalami penyempitan akibat tataguna lahan yang salah disebabkan oleh tekanan jumlah penduduk.  Pada kenyataannya program tersebut tidak berhasil karena kurang memahami karakteristik lahan gambut yang ada.  Dalam ekososten lahan gambut juga banyak terdapat tumbuhan dan hewan setempat yang sudah ada sebelumnya, dengan pencetakan sawah pada lahan tersebut berakibat hilangnya tumbuhan dan hewan di lokasi tersebut, sehingga terjadi kepunahan berbagai jenis hewan dan tumbuhan pada tingkat gen.

h. Contoh-contoh lain.

Kebijakan, program pemerintah dan kegiatan usaha swasta lainnya yang diijinkan pemerintah berdampak pada penurunan keanekaan hayati pada tingkat gen.  Sebut saja pembukaan lahan untuk perkebunan teh, kelapa hibrida (akan mengakibatkan kepunahan jenis kelapa lokal), jenis tanaman kopi, jenis tanaman cengkeh dan tembakau yang diintroduksikan oleh perusahaan rokok pada petani lokal akan menghilangkan varietas tembakau dab cengkeh lokal, dan lain-lain.

 

2. Sektor pertanian.

Seperti pada sektor kehutanan dan perkebunan, di sektor pertanian juga banyak kebijakan dan program pemerintah yang berakibat pada menurunnya jumlah keanekaan hayati pada tingkat gen.  Sebut saja program revolusi hijau yang digulirkan pemerintah yang bertujuan untuk memenuhi swasembada pangan.  Seperti yang telah dijelaskan pada soal, pada program tersebut pemerintah memperkenalkan panca usaha tani dengan menganjurkan menanam padi varietas unggul tahan wereng dengan masa tanam yang lebih singkat dan hasil panen yang lebih banyak.  Kondisi demikian menjadikan petani meninggalkan kebiasaannya menanam padi lokal yang jenisnya mencapai ratusan menjadi hanya menanam jenis padi tersebut, sehingga ratusan jenis varietas padi mengalami kepunahan.  Beberapa contoh kebijakan dan program pemerintah serta kegiatan lainnya dapat dilihat dibawah ini :

a. Program pemerintah meningkatkan produksi jagung.

Program pemerintah meningkatkan produksi jagung untuk kepentingan ekspor  menitik beratkan pada produksi.  Pada program ini juga diintroduksikan bibit jagung hibrida yang dapat dipanen dapat waktu yang singkat dengan produksi yang lebih banyak.  Dengan diintroduksikannya jenis jagung tersebut membuat petani lebih suka menanam jenis jagung ini dan mengakibatkan jenis-jenis jangung lokal yang sudah ada terabaikan menjadi punah.

b. Program pemerintah menaikkan produksi kedele.

Program pemerintah yang lain juga dilakukan untuk meningkatkan produksi kedele untuk memenuhi kebutuhan kedele dalam negeri.  Program ini mengenalkan bibit kedele yang dapat dipanen dapat waktu yang singkat dengan produksi yang lebih banyak.  Dengan diintroduksikannya jenis kedele tersebut membuat petani lebih suka menanam kedele jenis ini sehingga jenis-jenis kedele lokal yang sudah ada menjadi punah.

c. Tembakau untuk industri rokok.

Berbagai industri rokok di Indonesia memiliki kerja sama dengan petani tembakau dengan pola kemitraan, pola kemitraan tersebut meliputi pendanaan, penyediaan lahan, teknis penanaman dan pengolahan pasca panen serta pembibitan.  Untuk pembibitan tembakau perusahaan rokok menentukan bibit yang harus ditanam oleh petani, sehingga jenis tembakau lokal terabaikan dan mengalami kepunahan.

d. Rumput gajah untuk menunjang industri ternak sapi potong dan sapi perah.

Penanaman rumput gajah berkaitan erat dengan industri peternakan, biasanya penanaman rumput jenis ini dilakukan secara besar-besaran pada area tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak akan rumput.  Jika sebelum dilakukan peternakan intensif ternak-ternak yang ada hanya diberi makan rumput yang tumbuh secara alamiah di ladang penggembalaan, maka setelah peternakan dilakukan secara intensif terjadi perubahan fungsi lahan dijadikan ladang rumput gajah, sehingga rumput-rumput yang sebelumnya sudah ada menjadi tersingkirkan.  

e. Pertanian bawang merah.

Usaha pertanian bawang merah di Jawa sebagian besar terpusat di Kabupaten Brebes.  Jika dahulu kita banyak mengenal varietas bawang merah dari Ampenan, Sumenep serta Brebes, maka pada saat ini di pasaran lebih banyak ditemukan varietas impor dari Bangkok dan Filipina.  Bawang Ampenan dan Sumenep secara fisik mempunyai ukuran yang lebih kecil dan warnanya tidak menarik, sehingga kurang banyak diminati oleh konsumen.   Melihat kondisi demikian petani lebih suka menanam bawang merah varietas Bangkok dan Filipina, sehingga bawang merah varietas lokal lama-kelamaan akan mengalami kepunahan.

f. Pertanian cabe.

Seperti masalah yang dihadapi pada pertanian bawang merah, pada pertanian cabe juga bisa dimungkinkan akan mengalami hal serupa.  Saat ini banyak masuk varietas-varietas cabe impor yang masuk ke Indonesia, seperti : cabe Jepang, parika dan banyak jenis cabe lainnya akan menggeser posisi cabe lokal seperti cabe kriting dan varietas lokal lainnya, sehingga lambat laun akan mengalami kepunahan pada tingkat gen.  Serta banyak jenis sayur-sayuran lainnya yang mengalami tekanan dengan adanya bibit-bibit impor.


3. Sektor peternakan

Pada sektor peternakan juga banyak kebijakan dan program pemerintah yang berdampak pada menurunnya keanekaan hayati.  Kebanyakan program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi, sebut saja peternakan unggas dan peternakan sapi yang menghasilkan telur, daging dan susu.  Berikut ini beberapa jenis peternakan yang banyak diusahakan di daerah-daerah yang pada akhirnya menghilangkan keberadaan hewan lokal  pada tingkat gen.

a. Peternakan sapi potong dan sapi perah

Sumber daya hewani sebagai salah satu sumber protein mempunyai posisi yang penting dalam pembangunan peternakan di Indonesia.  Untuk itu pemerintah melakukan pengembangbiakan sapi sebagai slah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani baik berupa daging maupun susu.  Hal yang dilakukan pemerintah selama ini banyak melakukan pengembangbiakan sapi impor maupun sapi hasil kawin silang, seperti Brangus, Benggala  dan jenis sapi lainnya dari Australia, sehingga sapi-sapi lokal seperti sapi Bali mulai tergeser keberadaannya.  Apabila hal ini terus berlanjut, maka dapat dimungkinkan akan terjadi kepunahan terhadap gen-gen sapi lokal.

b. Peternakan unggas.

Peternakan unggas mempunyai berbagai macam jenis unggas dari mulai ayam, burung, itik, angsa dan jenis unggas lainnya baik untuk kebutuhan protein berupa daging dan telur maupun unggas untuk keperluan hobi.  Sebagai salah satu contoh peternakan ayam, sebagaian besar kebutuhan konsumsi daging ayam disuplai melalui peternakan ayam ras.  Padahal berbagai jenis ayam lokal banyak terdapat di Indonesia yang mempunyai rasa yang lebih baik dari ayam ras tersebut.  Saat ini banyak jenis ayam lokal yang sudah mulai sulit untuk ditemui seperti ayam pelung, ayam bekisar, ayam dan masih banyak lagi.  Apabila keberadaan ayam lokal tersebut tidak dikembangkan, maka dihawatirkan akan mengalami kepunahan gen.


4. Sektor transmigrasi

Program trasnmigrasi identik dengan pembukaan lahan baru yang tadinya berupa hutan diubah menjadi lahan untuk kepentingan permukiman dan pertanian maupun perkebunan.  Keberadaan hutan tropis di Indonesia pada umumnya memiliki keanekaan hayati yang cukup tinggi dilihat dari sisi jumlah.  Keanekaan tersebut berupa flora dan fauna yang terkandung di dalamnya.  Dengan masuknya transmigrasi, maka terdapat perubahan vegetasi, sebelumnya hutan dijadikan kebun dan sawah dengan jenis tanaman yang terbatas hanya untuk kebutuhan ekonomi penduduknya.  Fungsi lahan sebagai habitat satwa dan tumbuh-tumbuhan lokal menjadi berubah, sehingga hewan dan tumbuhan yang sebelumnya ada akan mengalami kepunahan, baik pada tingkat spesies, maupun pada tingkat gen.


5. Sektor pertambangan

Seperti pada sektor-sektor lain, pertambangan juga memerlukan ruang dalam kegiatannya. Kebijakan pemerintah sejak tahun 1967 mengeluarkan Kontrak Karya generasi pertama kepada perusahaan multinasional  Freeport Mc. Moran menjadi dimulainya babak baru dalam era world class mining di Indonesia.  Tidak dapat dipungkiri, pertambangan mempunyai sifat yang destruktif terhadap lahan, terutama pertambangan yang dilakukan dengan metode tambang terbuka.  Beberapa sumber menyebutkan pada tahun 2000 dari seluruh kerusakan hutan yang ada di Indonesia tiga persennya diakibatkan oleh kegiatan penambangan, selebihnya banyak diakibatkan oleh aktivitas pembalakan liar.  Jika dilihat dari prosentase jumlahnya memang sedikit, tetapi banyak dampak negatif lainnya yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan secara fisik seperti : perubahan bentang lahan, pencemaran air, udara dan tanah secara kimiawi.  Beberapa contoh kasus yang terjadi di Indonesia terutama pada tambang-tambang besar antara lain :

a. Kegiatan PT. Freeport  Indonesia,

Perusahaan tambang ini beroperasi di Papua pada lokasi dengan ketinggian diatas 3000 msl.  Pada ketinggian tersebut mempunyai ekosistem yang khas yang tidak dimiliki daerah-daerah lainnya.  Sebut saja jenis tanaman perintis berupa lumut-lumutan yang berada di sana yang akan mengalami kepunahan dan mungkin berbagai macam jenis tumbuhan dan hewan yang belum diketemukan jenisnya banyak berada disana.  Penambangan didaerah tersebut akan merubah bentang lahan beserta isi yang terkandung di dalamnya, terlebih lagi sifat bijih tembaga dan emas yang asam, apabila tersingkap akan teroksidasi maupun menimbulkan proses leaching akan berpengaruh pada konsidi perairan di bawahnya, sehingga beberapa flora dan fauna yang mungkin belum diketahui jenisnya akan mengalami kepunahan pada tingkat spesies maupun gen.

b. Kegiatan PT. Newmont Minahasa Raya dan PT. Newmont Nusa Tenggara.

Yang menarik dari kedua perusahaan tersebut walaupun lokasinya berbeda, tetapi menggunakan metode penambangan dan pengolahan yang sama.  Terlebih lagi ketika kedua perusahaan tersebut memilih opsi untuk membuang tailing (limbah padat hasil pengolahan) pada dasar laut (sub marine tailing disposal).  Opsi ini pada awalnya banyak mengundang kontroversi di banyak kalangan terutama LSM yang bergerak di bidang lingkungan.  Tetapi pemerintah melalui Departeman Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementrian Lingkungan Hidup mempunyai kebijakan lain, yaitu tetap mengijinkan dengan berbagai alasan teknis.  Dihawatirkan pembuangan tailing di dasar laut akan bepengaruh terhadap biota laut sehingga akan mengurangi keanekaan hayati pada ekosistem dasar laut.

c. Kegiatan PT. Tambang Timah

PT. Tambang Timah beroperasi pada wilayah Kepulauan Riau, Karimun, Kundur, Singkep, Bangka dan Belitung.  Yang menarik dari perusahaan ini adalah bahwa penambangan yang dilakukannya tidak hanya di daratan saja melainkan penambangan juga dilakukan di daerah perairan pantai.  Penambangan di daratan banyak dilakukan pada daerah rawa dan pantai berupa ekosistem mangrove, kegiatan penambangan secara nyata merubah bentang alam yang tadinya dataran berubah menjadi cekungan yang penuh air dan lumpur.  Pada kondisi tersebut banyak vegetasi yang sebelumnya ada menjadi rusak dan tidak tumbuh kembali.  Pada penambangan yang dilakukan di perairan digunakan dredger dan kapal isap yang dapat merusak merusak kondisi dasar pantai yang didalamnya terdapat berbagai macam rumput laut, serta biaota laut lainnya yang pada tingkat dan kondisi tertentu akan mengalami kepunahan. 

Banyak lagi kegiatan perusahaan tambang lainnya yang menyumbang kepunahan spesies maupun pada tingkat gen baik flora dan fauna lokal, seperti : Penambangan baturara oleh PT. Kaltim Prima Coal di Sangata Kalimantan Timur, PT. Adaro di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan, PT. Batubara Bukit Asam di Sumatera Selatan yang semuanya dilakuakn dengan menggunakan metode tambang terbuka.

Saat ini pemerintah mempunya program besar yaitu pembuatan food estate di beberapa wilayah serta implemantasi Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK), hal yang patut untuk ditunggu apakah kedua program tersebut akan memberikan dampak yang baik bagi masyarakat pedesaan maupun keberlangsungan lingkungan dalam hal ini keanekaan hayati di Indonesia.  Sesungguhnya keanekaan hayati merupan sebuah modal yang tak ternilai dan dapat mendatangkan manfaat yang sangat besar jika dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan.